Turin - Laga Juventus versus Maccabi Haifa malam ini akan menjadi pesta perpisahan Giovanni Cobolli Gigli dengan Olimpico Grande Torino. Sang presiden Bianconeri itu segera melepas jabatannya itu.
Bahwa Cobolli Gigli akan lengser sudah diputuskan sejak awal bulan ini. Namun, kapan persisnya ia akan mundur rupanya Rabu (21/10/2009) malam atasu Kamis dinihari WIB, tepat ketika Juve memainkan laga ketiganya di Liga Champions di kandang sendiri.
Dilaporkan Tuttosport, pria 64 tahun itu akan mengucap salam perpisahan dengan tifosi Juventus dan mengakhiri tiga tahun kepemimpinannya, yang dimulai pada musim panas 2006, ketika "Si Nyonya Tua" diturunkan ke Seri B gara-gara skandal Calciopoli.
Suksesor Cobolli Gigli hampir dipastikan adalah Jean Claude Blanc, yang di eranya menjabat direktur manajer. Meski demikian penetapan Blanc masih harus melewati ratifikasi dari para pemilik saham klub berusia 112 tahun itu.
Kamis, 22 Oktober 2009
Diposting oleh Eldo Fadzhani di 05.32.00 0 komentar
Jakarta - Ryan Giggs kembali menorehkan catatan rekor. Golnya ke gawang Tottenham Hotspur membuatnya memperpanjang rekor sebagai pemain yang mencetak gol di setiap musim Premier League.
Giggs menyumbangkan satu gol saat membantu Manchester United mengalahkan Spurs 3-1 di Stadion White Hart Lane, Minggu (13/9/2008) dinihari WIB. Winger MU ini mencetak gol tersebut lewat tendangan bebasnya.
Gol ke gawang Spurs tersebut ternyata memiliki arti penting. Giggs menjadi satu-satunya pemain yang selalu mencetak gol setaip musim berturut-turut sejak format Premier League diperkenalkan pada musim 1992/1993.
Ini juga menjadi gol pertamanya di musim 2009/2010. Pemain berusia 35 tahun ini pun senang masih dapat terus mencetak gol di setiap musim namun dia berharap masih dapat mencetak banyak gol lagi bagi MU di musim ini.
"Saya bangga bisa mencetak gol di setiap musim tapi berharap bukan hanya ini. Saya tak ingin hanya ini gol saya di musim. Berharap saya bisa mencetak gol lagi," ungkap Giggs seperti dilansir Sky Sports.
Total Giggs telah 18 musim selalu mencetak gol. Sedangkan pesaingnya yaitu Garry Speed mencetak gol di 16 musim Premier League, tapi sudah sulit mengejarnya karena sejak 2008 dia bermain bersama klub Championship, Sheffield United.
Diposting oleh Eldo Fadzhani di 05.31.00 0 komentar
London - Claudio Ranieri saat ini memang tengah membesut AS Roma. Namun mantan pelatih Chelsea itu mengisyaratkan bahwa dirinya ingin kembali lagi ke tanah Inggris di masa mendatang.
Ranieri pernah selama empat tahun tinggal di negeri Ratu Elzabeth kala menukangi The Blues dari tahun 2000-2004. Dalam periode itu ia memang tidak bisa mempersembahkan titel. Pencapaian terbaiknya hanya runner-up liga di tahun musim 2003/04 dan finalis Piala FA di tahun 2002.
Meski tidak berhasil menorehkan satu gelar pun, rupanya Ranieri tetap tertarik untuk melatih tim dari Liga Primer lagi. Hal itu diutarakannya saat kembali ke Inggris ketika memenuhi undangan Manajer Chelsea, Carlo Ancelotti untuk menyaksikan laga melawan Altletico Madrid pada Rabu (21/10/09) malam waktu setempat.
Dalam kesempatan itu ia juga mengenang bahwa dirinya sama sekali tidak ingin meninggalkan Stamford Bridge. Ranieri sendiri pisah jalan dengan 'Si Biru' setelah manajemen tim ini lebih memilih Jose Mourinho yang sebelumnya menjuarai Liga Champions bersama Porto.
"Tentu saja saya ingin kembali ke Chelsea dan menyelesaikan pekerjaan saya namun hal itu tidak terjadi. Dan sekarang saya telah kembali ke Roma tempat di mana saya lahir dan klub yang saya dukung," tukasnya di Mirror Football.
"Jika saja ini bukan Roma, sebenarnya ada peluang untuk kembali dan melatih tim Inggris. Mungkin di lain waktu saya akan kembali," sambungnya.
Pelatih berjuluk Tinkerman itu melatih Roma sejak tanggal 1 September silam menggantikan Luciano Spaletti yang mengundurkan diri. Ranieri sendiri dikenal sebagai pelatih yang gemar berpetualang di negeri orang. Tercatat ia telah menangani 11 klub di tiga negara, Italia, Spanyol dan Inggris.
( krs / din )
Diposting oleh Eldo Fadzhani di 05.31.00 0 komentar
London - Claudio Ranieri saat ini memang tengah membesut AS Roma. Namun mantan pelatih Chelsea itu mengisyaratkan bahwa dirinya ingin kembali lagi ke tanah Inggris di masa mendatang.
Ranieri pernah selama empat tahun tinggal di negeri Ratu Elzabeth kala menukangi The Blues dari tahun 2000-2004. Dalam periode itu ia memang tidak bisa mempersembahkan titel. Pencapaian terbaiknya hanya runner-up liga di tahun musim 2003/04 dan finalis Piala FA di tahun 2002.
Meski tidak berhasil menorehkan satu gelar pun, rupanya Ranieri tetap tertarik untuk melatih tim dari Liga Primer lagi. Hal itu diutarakannya saat kembali ke Inggris ketika memenuhi undangan Manajer Chelsea, Carlo Ancelotti untuk menyaksikan laga melawan Altletico Madrid pada Rabu (21/10/09) malam waktu setempat.
Dalam kesempatan itu ia juga mengenang bahwa dirinya sama sekali tidak ingin meninggalkan Stamford Bridge. Ranieri sendiri pisah jalan dengan 'Si Biru' setelah manajemen tim ini lebih memilih Jose Mourinho yang sebelumnya menjuarai Liga Champions bersama Porto.
"Tentu saja saya ingin kembali ke Chelsea dan menyelesaikan pekerjaan saya namun hal itu tidak terjadi. Dan sekarang saya telah kembali ke Roma tempat di mana saya lahir dan klub yang saya dukung," tukasnya di Mirror Football.
"Jika saja ini bukan Roma, sebenarnya ada peluang untuk kembali dan melatih tim Inggris. Mungkin di lain waktu saya akan kembali," sambungnya.
Pelatih berjuluk Tinkerman itu melatih Roma sejak tanggal 1 September silam menggantikan Luciano Spaletti yang mengundurkan diri. Ranieri sendiri dikenal sebagai pelatih yang gemar berpetualang di negeri orang. Tercatat ia telah menangani 11 klub di tiga negara, Italia, Spanyol dan Inggris.
( krs / din )
Diposting oleh Eldo Fadzhani di 05.31.00 0 komentar
Jakarta - Serbuan penyerang top ke skuad Manchester City di musim ini sempat memunculkan prediksi bahwa Craig Bellamy akan tergusur ke bangku cadangan. Sejauh ini prediksi itu salah, bahkan sebaliknya.
Roque Santa Cruz, Emmanuel Adebayor dan Carloz Tevez bergabung ke City of Manchester Stadium, meramaikan lini depan The Citizens. Kedatangan mereka telah memakan "korban": Jo dipinjamkan lagi ke Everton, Valeri Bojinov dioper ke Parma.
Bellamy dan Benjani Mwaruwari bertahan di dalam tim, tapi nama kedua sudah nyaris tak terdengar lagi. Adapun Bellamy masih ditulis pers, bahkan dalam satu bulan ini tergolong sering.
Bukan sekadar kontroversinya memukul seorang penonton yang masuk lapangan saat berakhirnya derby Manchester, tapi ia memang sedang menampilkan permainan yang menonjol. Dalam tujuh pertandingan di Premiership sejauh ini, sudah empat gol ia buat. Bersama Adebayor ia adalah top skorer City saat ini.
Fakta yang cukup istimewa adalah Bellamy sanggup mencetak gol dalam pertarungan besar. Saat City menang 4-2 atas Arsenal, misalnya, ia menyumbang satu gol. Dalam derby Manchester, ia mengukir dua gol, walaupun timnya kalah 3-4.
Ketajaman bomber bandel asal Wales itu terlihat lagi dalam laga terakhir City tadi malam, atau Selasa (6/10/2009) dinihari WIB. Bellamy menjadi penyelamat timnya dengan mencetak gol penyama di menit 68, untuk memaksakan hasil imbang 1-1 di kandang Aston Villa.
"Dia bermain kesetanan saat ini," puji manajer Mark Hughes, dikutip dari AFP. "Tak soal di posisi mana saya memakai dia, dia masih memiliki dampak positif di pertandingan, seperti juga di malam ini."
"Dia bermain dengan kepercayaan diri yang hebat. Dia selalu berpikir bahwa dia adalah pemain terbaik dan dia memang hampir selalu begitu."
Sembilan hari setelah dibawa Hughes ke Manchester, Bellamy langsung mencetak gol dalam debutnya melawan Newcastle United pada 28 Januari 2009. Saat itulah dia menjadi pemain kelima dalam sejarah yang pernah menorehkan gol untuk enam klub yang berbeda di level Premier League. Sebelumnya ia pernah berseragam Coventry City, Newcastle, Blackburn Rovers, Liverpool, dan West Ham United.
Meski sedang on-fire, tapi Bellamy tetap harus mewaspadai tingginya kompetisi interen di City. Soalnya Santa Cruz sudah pulih dan Robinho pun suatu saat akan kembali dari masa cedera. Tapi bahwa dia mampu menjaga ketajamannya, itu modal besar untuk tetap bersaing di tim bertabur penyerang top.
Diposting oleh Eldo Fadzhani di 05.30.00 0 komentar
Liverpool - Glen Johnson tak ingin melewati laga big macth menghadapi Manchester United. Bek Liverpool ini yakin sudah fit saat skuadnya menjamu MU di Anfield akhir pekan ini.
Johnson absen saat Liverpool menelan kekalahan atas Lyon di Liga Champions Rabu (21/10/2009) kemarin. Bek internasional Inggris ini dibekap cedera pangkal paha sebelum The Reds kalah dari Suderland.
Tentu saja absennya Johnson dirasakan sebagai sebuah kehilangan besar buat Rafael Benitez yang kini semakin mendapatkan tekanan. Manajer The Reds itu terpaksa memainkan bek berusia 20 tahun, Martin Kelly, saat menghadapi Lyon.
Namun, Johnson rupanya tidak ingin melewati laga melawan MU dan siap untuk memperkuat barisan pertahanan The Kop. Ia yakin sudah pulih dari cederanya sebelum MU bertandang ke Anfield.
"Hari ini semakin baik, saya yakin sudah baik untuk laga Minggu ini. Kami belum melakukan tes, hanya melakukan pijatan ringan tapi tampaknya sudah lebih bebas daripada kemarin," ungkap Johnson seperti dilansir Soccernet.
Johnson juga melihat bahwa Fernando Torres juga punya peluang besar untuk bermain menghadapi MU. Namun dia tidak begitu pasti mengenai kondisi Steven Gerrard setelah ditraik keluar saat bermain 25 menit menghadapi Lyon.
"Saya pikir Nando (Torres) sudah akan membaik untuk pertandingan Minggu ini. Namun saya tidak begitu yakin mengenai kondisi Stevie," kata pemain yang diboyong Liverpool dari Portsmouth ini. ( key / din )
Diposting oleh Eldo Fadzhani di 05.30.00 0 komentar
Liverpool - Meski Liverpool tengah menjalani fase buruk di kompetisi lokal dan Liga Champions, Rafael Benitez bisa jadi tak akan dipecat. Dia punya senjata Rp 308 M untuk memaksa petinggi The Reds menahannya di Anfield.
Rafa kini dalam ancaman pemecatan setelah dia gagal memberi hasil terbaik pada Liverpool dalam beberapa pekan terakhir. The Reds bahkan dipaksa menelan empat kekalahan beruntun setelah ditundukkan Olympique Lyon di Liga Champions.
Rentetan kekalahan Liverpool terancam makin panjang lantaran akhir pekan ini akan menghadapi Manchester United. Kalau "Si Merah" kurang diunggulkan meski bermain di kandangnya sendiri, itu lantaran bakal absennya dua pilar utama: Fernando Torres dan Steven Gerrard.
Tapi kalaupun akhirnya kalah atas The Red Devils, Rafa mungkin tak akan langsung dapat surat PHK. Soalnya jika petinggi Liverpool nekat mengambil keputusan tersebut, maka mereka harus membayar Rafa uang kompensasi sebesar 20 juta poundsterling atau sekitar Rp 308 miliar.
Inilah yang jadi senjata pelatih Spanyol itu untuk untuk menghindari ancaman ditendang dari Anfield. Demikian diberitakan Dailymail.
Saat ini kontrak Rafa bersama Liverpool masih tersisa 4,5 tahun lagi. Dengan bayaran permusim sebesar 4,5 juta poundsterling, maka "Si Merah" harus membayar sebesar 20 juta poundsterling jika memberhentikan mantan pelatih Valencia itu. Itu belum termasuk beberapa staff yang dibawa Rafa dan hampir dipastikan bakal ikut angkat kaki jika Senor berusia 49 tahun itu diberhentikan.
Liverpool sepertinya tak mau mengikuti jejak Chelsea yang sempat kehilangan uang sampai 23 juta poundsterling saat memberhentikan Jose Mourinho dua tahun lalu. ( din / krs )
Diposting oleh Eldo Fadzhani di 05.29.00 0 komentar
